Kolaborasi One Health tidak mungkin terwujud tanpa mengatasi tantangan-tantangan ini.

Pendekatan One Health terutama terdiri dari kolaborasi para pemangku kepentingan, akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai sektor yang meliputi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Secara definisi, kolaborasi adalah tindakan atau proses bekerja sama dengan orang atau organisasi lain untuk mencapai tujuan bersama, seperti menciptakan sesuatu atau mengejar upaya intelektual. Dengan demikian, kolaborasi membutuhkan tim yang kohesif untuk mengikuti proses bersama dalam bekerja menuju tujuan bersama.

Kolaborasi tampaknya merupakan ide bagus untuk mewujudkan impian besar One Health. Tetapi apa saja hambatan paling umum dalam kolaborasi?

Masalah No. 1: Kurangnya Rasa Hormat dan Kepercayaan

Kolaborasi didasarkan pada hubungan interpersonal yang sukses dan saling menguntungkan, yang selanjutnya membutuhkan kepercayaan dan rasa hormat timbal balik. Sayangnya, terkadang kita kurang menghormati orang lain yang berbeda dari kita, baik karena perbedaan usia, jenis kelamin, ras, atau mungkin etnis. Latar belakang atau peran profesional yang berbeda juga dapat menyebabkan kesenjangan budaya di tempat kerja. Seringkali, supremasi fungsi yang paling menonjol mengakibatkan mereka yang termasuk dalam fungsi istimewa tersebut—atau bahkan seluruh organisasi—memiliki rasa hormat yang berkurang terhadap orang-orang yang bekerja di peran lain, menjadikan mereka warga korporat kelas dua. Dalam budaya kerja terburuk, masalah ini dapat mencapai tingkat sistem kasta.

Untuk mengatasi masalah ini, kita dapat mengatur interaksi rutin antara para pemimpin dari berbagai divisi untuk memastikan mereka memahami peran dan nilai yang diberikan oleh setiap tim, membangun komunikasi terbuka, dan mengembangkan hubungan yang saling menghormati di antara rekan-rekan mereka. Kita juga dapat membentuk tim proyek yang dapat saling bertukar ide dari berbagai tim untuk merangsang inovasi dan juga membangun komunikasi interpersonal yang lebih baik antar tim.

Masalah No. 2: Pola Pikir yang Berbeda

Keberagaman sudut pandang sebenarnya merupakan aset bagi tim mana pun. Dengan perspektif yang berbeda, kita dapat melihat berbagai dimensi masalah dan menghasilkan solusi unik untuknya. Namun, pola pikir yang beragam juga dapat menyebabkan kesalahpahaman. Ketika pola pikir rekan satu tim terasa bertentangan satu sama lain, perbedaan ini dapat tampak mengancam dan menimbulkan rasa takut, penolakan, dan bahkan kemarahan. Misalnya, orang yang berprasangka buruk terhadap kreativitas mungkin menunjukkan penghinaan atau meremehkan ide orang lain karena merasa terancam olehnya.

Solusinya adalah dengan menumbuhkan pemahaman yang lebih besar antara orang-orang dengan pola pikir yang berbeda agar dapat menyelesaikan konflik yang timbul akibat perbedaan tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui penyelesaian konflik secara adil, memberikan penguatan positif terhadap upaya setiap orang untuk berkontribusi ide, menghargai kekuatan unik setiap orang, dan yang terpenting, berupaya memahami rekan tim yang pola pikirnya berbeda dari Anda—baik karena pelatihan dan peran mereka atau perbedaan demografis.

Masalah No. 3: Keterampilan Mendengarkan yang Buruk

Kolaborasi tidak mungkin tanpa keterampilan komunikasi yang baik, dan kuncinya adalah kemampuan mendengarkan dengan baik. Mendengarkan berarti menerima dan menafsirkan apa yang dikatakan orang lain secara akurat. Tantangan yang mungkin muncul adalah beberapa anggota tim dengan ego besar tidak benar-benar menghargai pendapat rekan-rekan mereka dan, oleh karena itu, mungkin tidak mau mendengarkan orang lain. Mereka tampak teralihkan, tidak memperhatikan, dan tidak terlibat dengan siapa pun yang sedang berbicara. Mereka sering menyela, memberikan komentar atau mengajukan pertanyaan yang mengalihkan percakapan. Mereka menunjukkan bias, terburu-buru mengambil kesimpulan, dan menyelesaikan kalimat orang lain. Mereka tidak menunjukkan empati kepada orang yang sedang berbicara. Mereka tidak memberikan umpan balik yang membangun. Tanggapan mereka terhadap ide orang lain mungkin bersifat menghakimi atau meremehkan.

Solusinya adalah dengan mempraktikkan mendengarkan aktif, menunjukkan empati, memberikan perhatian penuh kepada pembicara, hanya melakukan satu percakapan dalam satu waktu, fokus pada apa yang dikatakan pembicara saat ini daripada memikirkan balasan Anda, bersabar, dan tidak menyela. Kita juga dapat mencoba mengingat poin-poin penting dan mengulanginya kepada pembicara—dengan memparafrasekan atau meringkasnya—atau menyebutkannya kembali di kemudian hari dalam percakapan untuk memastikan orang lain merasa didengar dan dipahami.

Jadi, apakah Anda siap untuk mengatasi tantangan kolaborasi umum tersebut guna mencapai masa depan yang lebih baik?