INDOHUN Mempercepat Implementasi Pencegahan Penyakit dengan Meningkatkan Kapasitas Keterampilan Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons bagi Mahasiswa Kesehatan di Kawasan Asia

INDOHUN, sebagai organisasi yang mengkhususkan diri dalam pengembangan kapasitas sumber daya kesehatan, telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam memperkuat kapasitas kolaborasi dan koordinasi dalam hal isu kesehatan global di Asia. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan konsep One Health, yang mengakui bahwa kesehatan manusia terhubung dengan kesehatan hewan dan lingkungan, untuk menyelesaikan masalah kesehatan global yang menggabungkan kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Untuk mencapai tujuan pendekatan tersebut, diperlukan hubungan yang kuat antara setiap sektor dan disiplin ilmu untuk berkolaborasi. Latar belakang tindakan ini dimulai ketika komunitas global menghadapi banyak penyakit menular yang menakutkan dalam skala besar. Pada akhir tahun 2014, terjadi penularan virus Ebola dari hewan ke manusia. Lebih lanjut, fenomena ini terjadi dan menyebar dengan cepat dari manusia ke manusia di Afrika Tengah dan Barat. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa penyakit terjadi tanpa peringatan, menginfeksi suatu negara dan dengan mudah memasuki negara lain. Oleh karena itu, pengakuan satu negara terhadap negara lain sangat penting untuk menghentikan penyakit tersebut. Pengakuan ini disebut kolaborasi dan koordinasi di antara tenaga kerja kesehatan dan sektor terkait kesehatan.

Sejalan dengan latar belakang tersebut, INDOHUN telah menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan sejak tahun 2014 untuk mencegah fenomena tersebut terjadi di masa mendatang., Pemimpin Sejati Kesehatan Global 2.0 (GHTL 2.0). Tahun ini, pelatihan dilaksanakan pada tanggal 16-23 Juli 2018 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pelatihan ini berlangsung selama delapan hari dengan komposisi 4 hari untuk kelas kepemimpinan dan kolaborasi, 2 hari untuk pemberdayaan lokal, satu hari untuk kunjungan budaya, dan satu hari untuk kegiatan membangun tim. Tujuan pelatihan di kelas adalah untuk memfasilitasi peserta membangun kesadaran tentang kondisi kesehatan global dan masalah yang mungkin dihadapi umat manusia. Pelatihan ini menunjukkan gambaran besar kondisi kesehatan dunia dan di mana mereka dapat berkontribusi untuk itu. Sejalan dengan alasan tersebut, peserta mempelajari beberapa topik terkait masalah kesehatan global seperti masalah resistensi antimikroba, masalah satwa liar, dan One Health. Topik-topik tersebut disampaikan oleh Christopher A. Whitter (Direktur Program Kedokteran Konservasi & Asisten Profesor Riset, Cummings School of Veterinary Medicine, Tufts University), Benyamin Sihombing (Organisasi Kesehatan Dunia, Perwakilan untuk Indonesia), dan Benjamin D. Anderson (perwakilan Komisi One Health dan Kepala tim One Health dari Duke Kunshan University). Kemudian, mereka juga mempelajari tentang alat yang dapat membantu mereka membuat program kesehatan. Topik ini disampaikan oleh Jeffry Mariner (Profesor Riset, Tufts Cummings School of Veterinary Medicine, Cummings School of Veterinary Medicine, Tufts University).

Lebih lanjut, sebagai generasi penerus tenaga kerja di bidang kesehatan dan yang terkait dengan kesehatan, meningkatnya kesadaran dapat mengarahkan mereka untuk mengidentifikasi nilai diri mereka sebagai seorang pemimpin yang akan memimpin masa depan dan membuat perubahan yang ingin mereka lihat di masa depan. Dengan melakukan ini, hal itu akan mencerminkan nilai hidup mereka yang akan digunakan untuk mengambil tindakan. Nilai kepemimpinan ini dapat membawa mereka menjadi pemimpin yang dapat memimpin satu sama lain dengan latar belakang yang berbeda tetapi memiliki satu visi. Topik ini dipimpin oleh Prof. drh. Wiku Adisasmito., M.Sc., PhD (koordinator INDOHUN dan profesor adjunkt di Tufts University). Selain itu, untuk membekali peserta dengan pengetahuan yang komprehensif, mereka telah diberikan topik lain yang diperlukan seperti inisiatif sosial yang diberikan oleh Samantha Barbara Islan, (Ketua dewan Love Pink) dan Kemal Soeriawidjaja (ID Kemitraan).

Selain itu, pemahaman tentang kondisi kesehatan global tidak hanya berperan penting, tetapi juga kepekaan terhadap budaya, disiplin ilmu, dan pengetahuan keterampilan teknis yang diperlukan untuk dipahami sebagai pemimpin kesehatan. Sejalan dengan nilai-nilai tersebut, para peserta tinggal bersama masyarakat setempat untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang budaya, kesehatan, dan toleransi selama 2 hari 2 malam. Mereka tinggal di Desa Penujak, Lombok Tengah. Desa ini dikenal sebagai desa penghasil tembikar tertua di Lombok. Di desa tersebut, mereka harus mendidik masyarakat berdasarkan masalah yang mereka hadapi, kemudian mereka harus mengidentifikasi masalah tersebut terlebih dahulu saat melakukan praktik tinggal bersama masyarakat. Dengan demikian, kita dapat menentukan target intervensi. Mereka juga belajar bagaimana budaya dapat memiliki hubungan timbal balik dengan kesehatan. Oleh karena itu, mereka dapat mengembangkan strategi yang efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat setempat. Lebih jauh lagi, untuk melakukan hal tersebut, para peserta harus berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain karena mereka berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Tindakan ini membuat mereka lebih berpikiran terbuka dan membangun hubungan yang kuat dengan orang lain.

Di luar semua hal di atas, tekad dan disiplin yang kuat adalah kunci untuk membentuk sumber daya manusia terbaik. Oleh karena itu, pelatihan ini berkolaborasi dengan kepolisian Nusa Tenggara Barat. Mereka harus mengikuti senam pagi setiap hari untuk mengembangkan dan membangun gaya hidup sehat, khususnya bagi para pemimpin masa depan yang harus menanggapi jadwal yang padat dan tenggat waktu yang ketat. Kemudian, mereka harus mengikuti kegiatan lapangan kepemimpinan yang bersifat outbound. Kegiatan ini dirancang untuk membangun ikatan yang kuat di antara mereka. Dengan ikatan tersebut, mereka dapat berkolaborasi dengan mudah di masa depan. Sebagai kesimpulan, pelatihan ini didedikasikan untuk mempercepat implementasi pencegahan penyakit di kawasan Asia.