{"id":2634,"date":"2022-06-02T13:26:11","date_gmt":"2022-06-02T06:26:11","guid":{"rendered":"https:\/\/indohun.org\/news\/penyakit-mulut-dan-kuku-muncul-kembali-setelah-36-tahun-2\/"},"modified":"2022-06-02T13:26:11","modified_gmt":"2022-06-02T06:26:11","slug":"penyakit-mulut-dan-kuku-muncul-kembali-setelah-36-tahun-2","status":"publish","type":"news","link":"https:\/\/indohun.org\/id\/news\/penyakit-mulut-dan-kuku-muncul-kembali-setelah-36-tahun-2\/","title":{"rendered":"Penyakit Mulut dan Kuku: Muncul Kembali Setelah 36 Tahun?"},"content":{"rendered":"<p>Pada awal Mei 2022, Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menetapkan sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh dan Jawa Timur sebagai daerah terdampak wabah penyakit mulut dan kuku atau PMK pada hewan ternak. Wabah ini berkembang sangat cepat.<\/p>\n<p>Penyakit mulut dan kuku (PMK) juga dikenal sebagai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Jenis penyakit ini disebabkan dari virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genus Apthovirus yaitu Aphtaee epizootecae. Masa inkubasi dari penyakit 1-14 hari yakni masa sejak hewan tertular penyakit hingga timbul gejala penyakit Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan dan bertahan hidup pada tulang, kelenjar, susu, serta produk susu.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana penyebarannya?<\/strong><br \/>\nVirus ini menular ke hewan melalui beberapa cara diantaranya :<br \/>\n1. Kontak langsung (antara hewan yang tertular dengan hewan rentan melalui droplet, leleran hidung, serpihan kulit.<br \/>\n2. Sisa makanan\/sampah yang terkontaminasi produk hewan seperti daging dan tulang dari hewan tertular.<br \/>\n3. Kontak tidak langsung melalui vektor hidup yakni terbawa oleh manusia. Manusia bisa membawa virus ini melalui sepatu, tangan, tenggorokan, atau pakaian yang terkontaminasi.<br \/>\n4. Kontak tidak langsung melalui bukan vektor hidup (terbawa mobil angkutan, peralatan, alas kandang dll.)<br \/>\n5. Tersebar melalui udara, angin, daerah pedalaman khusus (mencapai 60 km di darat dan 300 km di laut)<\/p>\n<p><strong>Bagaimana gejala klinis PMK pada hewan ternak?<\/strong><br \/>\n<strong>Gejala pada sapi<\/strong><br \/>\n1. Terjadi demam (pireksia) hingga mencapai 41\u00b0C dan memburuk<br \/>\n2. Mengalami anoreksia (tidak nafsu makan)<br \/>\n3. Penurunan produksi susu yang drastis pada sapi perah selama 2-3 hari<br \/>\n4. Keluar air liur berlebihan (hipersativasi)<br \/>\n5. Air liur terlihat menggantung, air liur berbusa di lantai kandang.<br \/>\n6. Pembengkakan kelenjar submandibular.<br \/>\n7. Hewan lebih sering berbaring<br \/>\n8. Luka pada kuku dan kukunya lepas.<br \/>\n9. Menggeretakan gigi, menggosokkan mulut, leleran mulut, suka menendang kaki.<br \/>\n10. Efek ini disebabkan karena vesikula (lepuhan) pada membran mukosa hidung dan bukal, lidah, lubang hidung, moncong, bibir, puting, ambing, kelenjar susu, ujung kuku, dan sela antar kuku.<br \/>\n11. Terjadi komplikasi berupa erosi pada lidah dan superinfeksi dari lesi, mastitis dan penurunan produksi susu permanen,<br \/>\n12. Mengalami miokarditis dan abotus kematian pada hewan muda,<br \/>\n13. Kehilangan berat badan permanen, kehilangan kendali panas.<\/p>\n<p><strong>Pada Domba dan Kambing<\/strong><br \/>\n1. Lesi kurang terlihat, atau lesi pada kaki bisa juga tidak terlihat.<br \/>\n2. Lesi\/lepuh pada sekitar gigi domba<br \/>\n3. Kematian pada hewan muda.<br \/>\n4. Keluar air liur berlebihan (hipersativasi)<\/p>\n<p><strong>Bisakah kita mencegah dan mengendalikan PMK?<\/strong><\/p>\n<p>Tentu saja! Ada sejumlah poin yang harus dilakukan pemerintah dan segenap pemegang kebijakan terkait untuk mengendalikan PMK ini.<\/p>\n<p><strong>Biosekuriti Barang<\/strong><br \/>\n1. Pembuangan yakni pemusnahan barang \u2013 barang yang terkontaminasi<br \/>\n2. Dekontaminasi yaitu semua barang yang masuk ke dalam kandang perlu disanitasi dengan melakukan desinfeksi, fumigasi, atau disinari lampu ultra violet.<\/p>\n<p><strong>Biosekuriti Kandang<\/strong><br \/>\n1. Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan secara berkala setelah selesai digunakan<br \/>\n2. Melakukan desinfeksi lingkungan sekitar kandang secara berkala dan Dekontaminasi yakni dengan cara mencuci kandang, peralatan, kendaraan, dan bahan-bahan lain yang memungkinkan bisa menularkan PMK dengan deterjen atau disinfektan.<br \/>\nBiosekuriti pada Karyawan Peternakan<br \/>\n1. Karyawan wajib masuk ke ruang semprot disinfektan<br \/>\n2. Karyawan yang masuk kadang harus ganti baju lengkap dengan seragam (APD), sepatu boot, dan masker<br \/>\nBiosekuriti Tamu Kunjungan<br \/>\n1. Tamu yang masuk ke kandang harus ganti baju lengkap dengan seragam lengkap (APD), sepatu boot, dan masker.<br \/>\n2. Tamu masuk ke kandang melalui penyemprotan biosekuriti dan harus melakukan celup kaki dan cuci tangan di tempat disinfektan kandang<\/p>\n<p><strong>Biosekuriti kendaraan<\/strong><br \/>\n1. Keamanan perlu menyemprot Ban dan bagian bawah kendaraan dengan menggunakan larutan disinfektan atau melalui bak dipping kendaraan.<br \/>\nBiosekuriti Ternak<br \/>\n1. Setiap ternak yang baru masuk ke lokasi peternakan perlu ditempatkan terlebih dahulu di kandang karantika\/isolasi selama 14 hari dan dilakukan pengamatan yang mengintensifkan terhadap gejala penyakit.<br \/>\n2. Jika terdapat gejala klinis penyakit, maka segera dipisahkan dan dimasukkan ke kandang isolasi dan ditangani lebih lanjut oleh petugas kesehatan hewan dan dilaporkan pada dinas peternakan setempat.<br \/>\n3. Perlindungan pada zona bebas dengan membatasi gerakan hewan, pengawasan lalu lintas dan pelaksanaan pengawasan.<br \/>\n4. Pemotongan hewan terinfeksi, hewan baru sembuh, dan hewan \u2013 hewan yang kemungkinan menghubungi agen PMK.<br \/>\n5. Musnahkan bangkai, sampah, serta seluruh produk hewan pada area yang terinfeksi.<br \/>\n6. Pelarangan pemasukan ternak baru dari daerah tertular<br \/>\n7. Untuk peternakan yang dekat daerah tertular maka ada anjuran untuk melaksanakan Vaksin virus aktif yang mengandung bahan pembantu<br \/>\n8. Kekebalan 6 bulan setelah dua kali pemberian vaksin, sebagian tergantung pada antigen yang berhubungan antara vaksin dan strain yang sedang mewabah.<\/p>\n<p>Mari kendalikan PMK dan prioritaskan pendekatan One Health dalam mencegah wabah yang akan datang dan meningkatkan keamanan kesehatan global!<\/p>","protected":false},"featured_media":2635,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"rs_blank_template":"","rs_page_bg_color":"","slide_template_v7":"","_links_to":"","_links_to_target":""},"news-category":[],"class_list":["post-2634","news","type-news","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indohun.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/news\/2634","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indohun.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/news"}],"about":[{"href":"https:\/\/indohun.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/news"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indohun.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indohun.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2634"}],"wp:term":[{"taxonomy":"news-category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indohun.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/news-category?post=2634"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}